Saya Calon Pengusaha

Menjadi berbeda untuk kebanyakan orang adalah hal yang sangat sulit. Berbeda itu seperti seekor kelinci di tengah kambing. Atau seperti satu pohon apel di antara deretan pohon jeruk di kebun jeruk. Padahal, menjadi berbeda itu unik, akan membuat seseorang menjadi mudah terlihat. Setiap mata seolah tertuju padanya. Tentu, akan jauh lebih baik jika beda di sini dalam konteks perbedaan yang positif.

Menjadi berbeda bisa dilakukan oleh siapa saja. Di dunia bisnis yang mengedepankan kreativitas, misalnya, perbedaan itu justru harus terus-menerus dilakukan agar hasil yang didapatkan tidak seragam dan bisa tampil menonjol di tengah kompetitor.

Jika kita memang baru belajar menjadi berbeda, ingin keluar menjadi individu yang berbeda, dan terlihat berbeda (agar hasil dari perbedaan itu bisa membuat kita mengubah keadaan sekitar menjadi lebih baik), maka hal ini yang harus kita lakukan:
 
1. Mulai Dari Pola Pikir
Pola pikir kita harus dibiasakan berbeda dengan orang lain. Seorang yang berbeda akan melihat hal-hal di hadapannya dengan sudut pandang yang kreatif. Sebuah tumpukan koran untuk orang biasa, hanya terlihat sebagai sampah yang kemudian cepat-cepat mereka kumpulkan untuk dijual kembali. Sedang untuk orang dengan pola pikir berbeda, maka tumpukan koran itu bisa saja dijadikan kerajinan seperti vas bunga, tempat pensil, bunga kertas, yang tentu saja nilai jualnya jauh lebih tinggi dari tumpukan koran yang belum diolah.

2. Jangan Takut Dicemooh
Ejekan orang lain yang tidak bisa melihat perbedaan sering menyakitkan. Dan tentu saja akan semakin menyakitkan, jika kita tidak bisa fokus pada mimpi yang selama ini ingin kita raih.

Takut dengan cemoohan orang lain kepada kita, itu artinya kita belum memiliki mental yang kuat. Jika itu yang terjadi maka yang harus kita perbaiki lebih dahulu adalah mental kita dalam menghadapi orang lain. Lakukan sesuatu yang berbeda dalam skala kecil terlebih dahulu. Misalnya mencoba mengemukakan opini kita yang berbeda dari orang lain, atau mencoba mengembangkan imajinasi seluasnya (bisa dipelajari dari anak-anak). Jika kita merasa tidak masalah dengan hal seperti itu, itu artinya kita sudah mulai melangkah di bagian awal zona bernama perbedaan.

3. Belajar Berani
Agar bisa menjadi berbeda, yang wajib kita miliki adalah keberanian—berani untuk melakukan hal-hal yang berbeda dan yakin perbedaan itu akan membuat kita menjadi manusia yang lebih bermanfaat.

Belajar berani mengambil keputusan untuk tidak hanya menjadi pengikut, adalah hal paling awal yang bisa kita pelajari. Berani berkata tidak adalah langkah berikutnya. Berani mengecewakan orang lain untuk hal yang sifatnya prinsip dan kita anggap benar adalah langkah yang lainnya lain.
 
4. Jangan Berhenti di Tengah Jalan
Hal berbeda yang kita lakukan, ketika sudah menemui jalan suksesnya, akan mendatangkan orang-orang yang akan mengikuti/meniru apa yang kita lakukan. Kita tidak perlu berhenti atau putus asa karena hal itu. Kita juga tidak perlu berhenti di tengah jalan hanya karena ide kita dicuri orang lain. Kita adalah kepala dan pengikut kita adalah ekor. Tugas kita terus mencari inovasi sesuatu yang berbeda.

Percayalah yang pertama selalu menjadi yang diingat oleh orang lain.
 
5. Mulai dari Sekarang!
It’s now or never, itu kata sebuah lagu. Ambil keputusan sekarang atau tidak sama sekali.
Berlama-lama berpikir untuk mengambil keputusan, hanya akan menghasilkan kebimbangan, bukan keputusan yang matang. Kita akan menjadi ragu dan semakin takut untuk mengambil keputusan. Maka, lakukan sekarang. Dan nikmati kenyataan bahwa menjadi berbeda itu membuat hidup kita jauh lebih berwarna.

Catatan: Harus diingat, sekadar berbeda saja belum cukup. Cari nilai manfaat yang bisa dikembangkan dari perbedaan yang kita buat. Jika itu bisa kita lakukan, niscaya nilai kreatif dari hasil perbedaaan itu bisa membuat kita sukses di berbagai bidang. Selamat mencoba!

Masa Lalu

Suatu ketika, ada seorang pemuda yang mendapat warisan dari orangtuanya. Karena tergolong keluarga sederhana, ia hanya mendapat sedikit uang dan beberapa buah buku. Sebelum meninggal, ayahnya berpesan, “Anakku, buku-buku ini adalah harta yang tak terhingga nilainya. Ayah berikan kepadamu, baca dan pelajarilah. Mudah-mudahan kelak  nasibmu bisa berubah lebih baik. Dan ini sedikit uang, pakailah untuk menyambung hidup dan bekerjalah dengan rajin untuk menghidupi dirimu sendiri.”

Tak berapa lama, uang yang ditinggalkan pun habis terpakai. Sejenak ia melongok buku-buku peninggalan ayahnya. Ia teringat pesan dari orangtuanya agar belajar dari buku tersebut. Karena malas, ia mengambil jalan pintas. Buku itu dijual kepada teman yang mau membeli karena kasihan. Sebagai gantinya, ia mendapatkan beras untuk makan sehari-hari.

Beberapa saat kemudian, si pemuda harus mulai bekerja kasar demi menyambung hidup. Yang membuatnya heran, teman yang dulu membeli bukunya, kini hidupnya kelihatan nyaman dan semakin maju. Karena penasaran ingin tahu, apa yang membuat teman tadi bisa berhasil hidupnya, dia mendatangi dan bertanya.

Meski sempat tidak mau membuka rahasia, setelah didesak dan kasihan melihat nasib si pemuda, akhirnya si teman terbuka. “Sebenarnya, aku sangat terbantu dengan buku yang kamu jual padaku. Dulu aku beli buku itu karena kasihan kepadamu. Kubiarkan saja berdebu di sudut kamar. Suatu hari, iseng karena ingin tahu, kubaca dan ternyata, wahh...isinya bagus sekali! Sebuah pelajaran hidup yang luar biasa.”

“Bukan itu saja,” sambung temannya. “Di dalam buku itu terselip pesan, agar  si pembaca setelah menguasai isi buku tersebut mau praktik dengan sungguh-sungguh. Sungguh, aku beruntung aku mendapat buku itu darimu. Lihat, hidupku jadi berubah. Sebenarnya, dari mana buku-bukumu itu berasal?”

Mendengar cerita temannya itu, si pemuda sangat menyesal. Harta peninggalan ayahnya ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kira. Karena malas membaca, kini ia hanya jadi pekerja kasar yang hidup ala kadarnya.

“Buku itu sebenarnya warisan dari orangtuaku,” jawab si pemuda. “Jujur, aku malas membacanya dan tidak tahu kalau ayahku menyimpan pesan yang sangat berharga. Sungguh, aku menyesal. Teman, boleh aku pinjam kembali buku-buku itu untuk memulai hidupku yang baru? Aku ingin bisa mengubah hidupku menjadi lebih baik.”

Netter yang Luar Biasa,

Demikianlah, banyak hal yang kadang tak kita mengerti dari pilihan-pilihan yang kita jalani. Sering mengundang penyesalan, seperti si pemuda tadi. Tapi bagi yang mau belajar, setiap kegagalan, setiap kesalahan pasti punya nilai pembelajaran. Maka, ada ungkapan "hal yang sudah berlalu tak perlu disesali". Sudah sepatutnya kata-kata bijak tadi kita jadikan pegangan hidup. Jika hari ini kita gagal, kita siap bangkit lagi!

Mari, jangan sesali yang sudah berlalu, jangan pula takut pada masa depan. Kita belajar dari banyak kesalahan dan segala ketidaknyamanan, untuk mengambil pilihan yang ada pada hari ini sebagai dasar pijakan meraih keberhasilan yang lebih membanggakan. Tetap berjuang!

13 Permintaan Anak kepada Orang Tua Yang Tak Pernah Diucapkan

1. Cintailah aku sepenuh hatimu.
2. Aku ingin jadi diri sendiri, maka hargailah aku.
3. Cobalah mengerti aku dan cara belajarku.
4. Jangan marahi aku di depan orang banyak.
5. Jangan bandingkan aku dengan Kakak atau adikku atau orang lain.
6. Bapak Ibu jangan lupa, aku adalah fotocopy mu.
7. Kian hari umurku kian bertambah, maka jangan selalu anggap aku anak kecil.
8. Biarkan aku mencoba, lalu beritahu aku bila salah.
9. Jangan membuat aku bingung, maka tegaslah padaku.
10. Jangan ungkit2 kesalahanku.
11. Aku adalah Ladang Pahala bagimu.
12. Jangan memarahiku dengan mengatakan hal2 buruk, bukankah apa yang keluar dari mulut mu adalah doa bagiku?
13. Jangan melarangku hanya dengan mengatakan "JANGAN" tapi berilah penjelasan kenapa aku tidak boleh melakukan sesuatu.

"SEMOGA BERMANFAAT”

Surat Kepada Kanjeng Nabi

Dicopy dari : Emha A. N.

Ah, Muhammad, Muhammad….. , Betapa kami mencintaimu . Betapa hidupmu bertaburan emas permata kemuliaan , sehingga luapan cinta kami tak bisa dibendung oleh apa pun . Dan jika seandainya cinta kami ini sungguh-sungguh , betapa tak bisa dibandingkan , karena hanya satu tingkat belaka di bawah mesranya cinta kita bersama kepada Allah.
Akan tetapi tampaknya cinta kami tidaklah sebesar itu kepadamu . Cinta kami tidaklah seindah yang bisa kami ungkapkan dengan kata , kalimat , rebana , dan kasidah-kasidah . Dalam sehari-hari kehidupan kami , kami lebih tertarik kepada hal-hal yang lain .
Kami tentu akan datang ke acara peringatan kelahiranmu di kampung kami masing-masing , namun pada saat itu nanti wajah kami tidaklah seceria seperti tatkala kami datang ke toko-toko serba ada , ke bioskop , ke pasar malam , ke tempat-tempat rekreasi .
Kami mengirim shalawat kepadamu seperti yang dianjurkan oleh Allah karena Ia sendiri beserta para malaikat-Nya juga memberikan shalawat kepadamu . Namun pada umumnya itu hanya karena kami membutuhkan keselamatan diri kami sendiri .
Seperti juga kalau kami bersembahyang sujud kepada Allah , kebanyakan dari kami melakukannya karena kewajiban , tidak karena kebutuhan kerinduan , atau cinta yang meluap-luap . Kalau kami berdoa , doa kami berfokus pada kepentingan pribadi kami masing-masing .
Sesungguhnya kami belum mencapai mutu kepribadian yang mencukupi untuk disebut sebagai sahabatmu , Muhammad . Kami mencintaimu , namun kami belum benar-benar mengikutimu . Kami masih takut dan terus menerus tergantung pada kekuasaan-kekuasaan kecil di sekitar kami . Kami kecut pada atasan . Kami menunduk pada benda-benda . Kami bersujud kepada uang , dan begitu banyak hal-hal yang picisan .
Setiap tahun kami memperingati hari kelahiranmu . Telah beribu-ribu kali umatmu melakukan peringatan itu , dan masing-masing kami rata-rata memperingati kelahiranmu tiga puluh kali . Tetapi lihatlah : kami jalan di tempat . Tidak cukup ada peningkatan penghayatan . Tidak terlihat output personal maupun sosial dari proses permenungan tentang kekonsistenan . Acara peningkatan maulidmu pada kami mengalami involusi , bahkan mungkin degradasi dan distorsi .
Zaman telah mengubah kami , kami telah mengubah zaman , namun kualitas percintaan kami kepadamu tidak kunjung meningkat . Kami telah lalui berbagai era , perkembangan dan kemajuan . Ilmu , pengetahuan , dan teknologi kami semakin dahsyat , namun tak diikuti dahsyatnya perwujudan cinta kami kepadamu . Kami semakin pandai , namun kami tidak semakin bersujud . Kami semakin pintar , namun kami tidak semakin berislam . Kami semakin maju , namun kami tidak semakin beriman . Kami semakin beriman , namun kami tidak semakin berihsan . Sel-sel memuai . Dedaunan memuai . Pohon-pohon memuai . Namun kesadaran kami tidak . Cinta dan internalisasi ketuhanan kami tidak .  Kami masih primitif dalam hal akhlak—substansi utama ajaranmu . Padahal kami tak usah belajar soal akhlak karena tidak menjadi naluri manusia ; berbeda dengan saudara kami kaum Jin yang ilmu tak usah belajar namun akhlak harus belajar . Akhlak kaum jin banyak yang lebih bagus dari kami .  Sebab kami masih bisa menjual iman dengan harga beberapa ribu rupiah . Kami bisa menggadaikan Islam seharga emblem nama dan segumpal kekuasaan . Kami bisa memperdagangkan nilai Tuhan seharga jabatan kecil yang masa berlakunya sangat sementara . Kami bisa memukul saudara kami sendiri , bisa menipu , meliciki , mencurangi , menindas , dan mengisap , hanya untuk beberapa lembar uang .
Padahal kami mengaku sebagai pengikutmu , Ya Muhammad . Padahal engkau adalah pekerja amat keras dibanding kepemalasan kami . Padahal engkau adalah negarawan agung dibanding ketikusan politik kami . Padahal engkau adalah ilmuwan ulung dibanding kepandaian semu kami . Padahal engkau adalah seniman anggun dibanding vulgar-nya kebudayaan kami .
Padahal engkau adalah pendekar mumpuni dibanding kepengecutan kami . Padahal engkau adalah strateg dahsyat dibanding berulang-ulangnya keterjebakan kami oleh sistem Abu Jahal kontemporer .
Padahal engkau adalah mujahid yang tak mengenal putus asa dibanding deretan kekalahan-kekalahan kami . Padahal engkau adalah pejuang yang sedemikian gagah perkasa terhadap godaan benda emas dibanding kekaguman tolol kami terhadap hal yang sama .
Padahal engkau adalah moralis kelas utama dibanding kemunafikan kami . Padahal engkau adalah panglima kehidupan yang tak terbandingkan dibanding keprajuritan dan keseradaduan kepribadian kami . Padahal engkau adalah pembebas kemanusiaan .
Padahal engkau adalah pembimbing kemuliaan . Padahal engkau adalah penyelamat kemanusiaan . Padahal engkau adalah organisator dan manajer yang penuh keunggulan dibanding ketidaktertataan keumatan kami .
Padahal engkau adalah manusia yang sukses menjadi nabi dan nabi yang sukses menjadi manusia , di hadapan kami . Padahal engkau adalah liberator budak-budak , sementara kami adalah budak-budak yang tak pernah merasa ,menyadari , dan tak pernah mengakui , bahwa kami adalah budak-budak .
Sementara kami adalah budak-budak—dalam sangat banyak konteks yang sudah berbincang tentang perbudakan , segera mencari kalimat-kalimat, retorika , dan nada yang sedemikian indahnya sehingga bisa membuat kami tidak lagi menyimpulkan bahwa kami adalah budak-budak .
Di negara kami ini, umatmu berjumlah terbanyak dari penduduknya . Di negeri ini, kami punya Muhammadiyah , punya NU , Persis , punya ulama-ulama dan MUI , ICMI , punya bank , punya HMI , PMII , IMM , Ashor , Pemuda Muhammadiyah , IPM , PII , pesantren-pesantren , sekolah-sekolah , kelompok-kelompok studi Islam intensif,  yaysan-yayasan , mubalig-mubalig , budayawan , dan seniman , cendekiawan , dan apa saja .
Yang kami tak punya hanyalah kesediaan , keberania

Terimalah Apa Adanya

Cowo : Sayang , lagi ngapain? 
Cewe : Kepo banget si 
Cowo : Kan aku pacar kamu sayang 
Cewe : Yaudah trs kenapa?
Cowo : Gapapa sih , sayang ada waktu ga hari ini? Kita ketemuan yuk dicafe!!

Akhirnya cewe itu pun datang ke Cafe yang dimaksud.
Cewe : Ngapain disuruh kesini?
Cowo : ngasih kotak musik
Cewe : Apaan coba ini !! gue kira lo mau ngasih cincin, eh gatau nya malah ini ! Gue sih juga bisa beli !
Cowo : Itukan tanda cinta ga perlu mahal enggaknya sayang , terimalah (sambil menaruh kotak musik itu ketangan cewenya)
Cewe : Apaan! Ga romantis ! sambil melempar kotak musik itu kejalan raya

Si cowo langsung berlari dan mengambil kotak musik itu dijalan raya, tiba-tiba mobil dgn kencangnya melaju dan menabrak si cowo, dan si cowo terpental jauh ke jalanan..

Cewe : Sayaaaang (si cewe berlari ke jalan raya dan memeluk si cowo)

Dengan sisa tenaga si cowo bilang kepada si cewe : terima lah ini sayang (sambil menyerahkan kotak musik itu kepada si cewe)
Dan si cewe langsung menerimanya.

Beberapa detik kemudian Tuhan berkehendak lain, si cowo pun pergi untuk selamanya..

Lalu terdengar suara dari kotak musik itu ketika si Cewe membukanya :
will you marry me? dan terbukalah kotak itu.
Di dalamnya ada sebuah cincin emas berkilau impian si Cewe.
Si cewe langsung nangis dan memeluk jasad si cowo yang bergelimang darah ;'(

PESAN :
Kalau kamu suka dengan seseorang, jngn liat pemberian dia mahal atau murah. Tapi liat ketulusannya..